PENDAHULUAN

Salah satu faktor utama yang menentukan mutu pendidikan adalah guru. Gurulah yang berada di garda terdepan dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia. Guru berhadapan langsung dengan para peserta didik di kelas melalui proses belajar mengajar. Di tangan gurulah akan dihasilkan peserta didik yang berkualitas, baik secara akademis, skill (keahlian), kematangan emosional, dan morfal serta spiritual. Dengan demikian, akan dihasilkan generasi masa depan yang siap hidup dengan tantangan zamannya.  Oleh karena itu, diperlukan sosok guru yang mempunyai kualifikasi, kompetensi, dan dedikasi yang tinggi dalam menjalankan tugas profesionalnya.

   Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dan jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Kunandar, 2009: 54).

 

       Tabel Guru Menurut Kelayakan Mengajar Tahun 2002/2003

No.

Jenjang

Pendidikan

Negeri

%

Swasta

%

Jumlah

%

1.

SD Layak 584.395 47,3 41.315 3,3 625.710 50,7
Tidak Layak 558.675 45,3 50.542 4,1 609,217 49,3
Jumlah 1.143.070 92,6 91.857 7,4 1.234.927 100

2.

SMP Layak 202.720 43,4 96.385 20,7 299.105 64,1
Tidak Layak 108.811 23,3 58.832 12,6 167.643 35,9
Jumlah 311.531 66,7 155.217 33,3 466.748 100

3.

SMA Layak 87.379 38,0 67.051 29,1 154.430 67,1
Tidak Layak 35.424 15,4 40.260 17,5 75.684 32,9
Jumlah 122.803 53,4 107.311 46,6 230.114 100

4.

SMK Layak 27.967 19,0 55.631 37,7 83.598 56,7
Tidak Layak 20.678 14,0 43.283 29,3 63.961 43,3
Jumlah 48.645 33,0 98.914 67,0 147.559 100

Sumber: Balibang Depdiknas.

Menurut Kunandar (2009) upaya peningkatan mutu pendidikan dilakukan dengan berbagai pendekatan, baik pendekatan kelembagaan, legal formal, maupun pemberdayaan sumber daya pendidikan. Pendekatan kelembagaan salah satunya melalui lahirnya Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK). Pendekatan Legal formal melalui serangkaian perundang-undangan (peraturan) yang berkaitan dengan pendidikan, seperti UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pendekatan pemberdayaan sumber daya pendidikan dilakukan dengan melakukan kegiatan peningkatan kompetensi dan kualifikasi tenaga pendidik dan kependidikan secara dan berkesinambungan.

Manfaat dari pentingnya topik masalah ini adalah sebagai salah satu acuan dan bahan diskusi lebih lanjut bagi para guru dalam melaqksanakan tugas profesionalnya. Selain itu dapat memberikan manfaat bagi kalangan masyarakat pendidikan, terutama para guru dalam upaya menuju guru yang professional sebagaimana tuntutan masyarakat dan undang-undang. Diskusi-diskusi mendalam trentang tugas-tugas professional guru perlu didorong lebih intensif lagi melalui revitalisasi dan pemberdayaan KKG/MGMP di wilayah masing-masing. Dengan demikian, diantara para guru akan terjadi transfer informasi dan pengalaman satu sama lain,yang pada gilirannya akan me,mpercepat proses peningkatan mutu pendidikan di tanah air.

Tujuan yang diharapkan adalah tuntutan profesionalisme guru harus disikapi dengan peningkatan kualifikasi dan kompetensi, apalagi sekarang ada keharusan mengikuti uji sertifikasi untuk menentukan kelayakan seorang guru. Oleh karena itu, guru jangan sampai terkena “jebakan rutinitas” dimana guru hanya disibukkan dengan kegiatan sehari-hari sehingga lupa dengan peningkatan kompetensi dan profesionalisme.

 

 

MASALAH POKOK

            Beberapa pokok permasalahan pendidikan di Indonesia menurut Umar (2004) adalah:

  1. Belum ada standar nasional
  2. Kurikulum nasional dan strukturnya
  3. Sistem ujian
  4. Sistem Akreditasi
  5. Sistem pemantauan mutu pendidikan
  6. Sistem birokrasi pendidikan

Tugas dan peran guru dari hari ke hari semakin berat, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru sebagai komponen utama dalam dunia pendidikan dituntut untuk mampu mengimbangi bahkan melampaui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dalam masyarakat.

Sementara itu, menurut Mulyasa (2005) sedikitnya ada tujuh kesalahan yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran, yaitu:

  1. Mengambil jalan pintas dalam pembelajaran.
  2. Menunggu peserta didik berperilaku negatif.
  3. Menggunakan destructive disclipner.
  4. Mengabaikan perbedaan peserta didik.
  5. Merasa paling pandai dan tahu.
  6. Tidak adil (diskriminatif).
  7. Memaksa hak peserta didik.

 

 

 

 

PEMBAHASAN

  1. Statement Teori

Penyempurnaan sistem pendidikan menitikberatkan pada (Dirtektorat Menengah Umum Depdiknas, 2003) adalah:

  1. Pertama,  pelaksanaan otonomi pengelolaan pendidikan.
  2. Kedua, pelaksanaan wajib belajar Sembilan tahun.
  3. Ketiga, pengembangan dan pelaksanaan kurikulum yang menekankan pada kompetensi.
  4. Keempat, penyelenggaraan sistem pendidikan yang terbuka.
  5. Kelima, peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan.
  6. Keenam, pembiayaan pendidikan yang berkeadilan.
  7. Ketujuh, pengawasan, evaluasi, dan akreditasi pendidikan.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka ditetapkanlah tujuan pembangunan pendidikan nasional jangka menengah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
    1. Meningkatkan pemerataan kesempatan belajar pada semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan  bagi semua warga Negara secara adil, tidak diskriminatif, dan demokratis tanpa membedakan tempat tinggal, status sosial ekonomi, jenis kelamin, agama, kelompok etis, dan kelainan fisik, emosi, mental serta intelektual..
    2. Menuntaskan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun secara efisien, bermutu, dan relevan sebagai landasan yang kokoh bagi pengembangan kualitas manusia Indonesia.
    3. Meningkatkan kualitas pendidikan dengan tersedianya standar pendidikan nasional dan Standar  Pelayanan Minimal (SPM), serta meningkatkan kualifikasi minimum dan sertifikasi bagi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan lainnya.

 

  1. Statement Fakta

Sebagai organisasi pembelajar bertumpu pada lima aktivitas utama, seperti sebagai berikut:

  1. Pemecahan masalah secara sistematis.

Dalam mengidentifikasikan dan merumuskan serta memecahkan setiap masalah yang muncul, sekolah menggunakan cara berpikir ilmiah dengan dukungan data empirik yang tersedia.

  1. Uji coba.

Sekolah jangan segan dan ragu untuk selalu mencari dan mencoba cara, pendekatan, prosedur, serta gagasan baru untuk memperbaiki keadaan.

  1. Belajar dari pengalaman.

Sekolah selalu mengkaji keberhasilan dan kegagalan yang diraihnya, misalnya secara sistematis dan mencatat serta menjadikan pelajaran terpetik tersebut sebagai pengetahuan bersama warga sekolah. Kegagalan masa lalu yang dialami sekolah menjadi pelajaran agar tidak terulang dan menjadi pijakan untuk mencari alternatif lain.

  1. Belajar dari pihak/orang lain.

Sekolah perlu melakukan perbandingan dengan sekolah atau lembaga lain untuk nmemperoleh perspektif baru. Keberhasilan yang dilakukan lembaga lain dapat dijadikan masukan untuk perbaikan dan tolak ukur (benchmarks).

  1. Transfer pengetahuan.

Sekolah sebagai organisasi pembelajar mendorong warga sekolah untuk secara aktif dan proaktif melakukan pertukaran informasi, gagasan, pengetahuan, dan pengalaman.

 

 

 

 

KESIMPULAN

Sikap dan sifat-sifat guru yang baik adalah sebagai berikut:

  1. Bersikap adil.
  2. Percaya dan suka kepada murid-muridnya.
  3. Sabar dan rela berkorban.
  4. Memiliki wibawa dihadapan peserta didik.
  5. Penggembira
  6. Bersikap baik terhadap guru-guru lain.
  7. Bersikap baik terhadap masyarakat.
  8. Benar-banar menguasai mata pelajarannya.
  9. Suka dengan mata pelajaran yang diberikannya.

10.Berpengetahuan luas.

  1. A.    SD/MI/SDLB/Paket A

Adapun Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) adalah sebagai berikut:

  1. Berkomunikasi secara jelas dan santun.
  2. Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri.
  3. Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya.
  4. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis.
  5. B.     SMP/MTs/smplb/Paket B

Adapun Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) adalah sebagai berikut:

  1. Menunjukkan sikap percaya diri
  2. Mengahargai karya seni dan budaya nasional.
  3. Menunjukkan kemampuan berfikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif.
  4. C.    SMA/MA/SMALB/Paket C

Adapun Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) adalah sebagai berikut:

  1. Menunjukkan apresiasi terhadap karya estetika.
  2. Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun.
  3. Menunjukkan ketrampilan membaca dan menulis naskah secara sistematis dan estetis.
  4. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi.
  5. D.    SMK/MAK

Adapun Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) adalah sebagai berikut:

  1. Menunjukkan ketrampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
  2.  Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain
  3. Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok.
  4. Menguasai kompetensi program keahlian dan kewirausahaan baik untuk memenuhi tuntutan dunia kerja maupun untuk mengikuti pendidikan tinggi sesuai dengan kejujurannya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Tenaga Kependidikan Depdiknas. 2003. Standar kompetensi Guru SMU. Jakarta: Depdiknas.

Kunandar. 2009. Guru Profesional (Impelementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)  dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru). Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Mulyasa. 2005. Implemkentasi Kurikulum 2004. Bandung: Rosda Karya.

Umar, Jahja. 2004. “Pengembangan Sistem Penilaian Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Nasional di Era Global”, Makalah Seminar Nasional Pendidikan, HEPI, Yogyakarta.